SEMARANGUTARA, AYOSEMARANG.COM—Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengajak warga menonton film "Ave Maryam" yang rencananya segera tayang pada April 2019.Sebab, beberapa setting film tersebut berlatar Gereja Blenduk dan Kota Lama.setting film tersebut berlatar Gereja Blenduk dan Kota Lama.
Skanaacom, jateng.jpnn.com, SEMARANG - Seorang petugas kebersihan ditemukan tergeletak di menara Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel Terpeleset Lalu Jatuh dari Atas Menara, Petugas Kebersihan Gereja Blenduk Semarang Ditemukan Terkapar - Skanaa
im back pastiu listeners! here's the recording of my khotbah pertama di GPIB Immanuel Semarang (Gereja Blenduk, Kota Lama), i wanna keep this memory here. this is my first time khotbah di mimbar besar GPIB, i believe it's only by God's grace. it was June 2019 when me and mami went to this church,
Everythingyou need to know about Indonesia from our travel experts.
Jikaberakhir pekan menikmati Kawasan Kota Tua Semarang, Anda akan mendapati sebuah bangunan megah bergaya Belanda yang masih terjaga, Gereja Blenduk namanya. Inilah sisa peninggalan Belanda yang terawat dengan cantik.
Lalu ada diskusi tentang konservasi Cagar Budaya yang lokasi acaranya ditaruh di dalam Gereja Blenduk. Yang belum kesampaian masuk ke dalam bangunan yang ada sejak tahun 1753 ini, ya, ini kesempatan sangat berharga. Bila pameran foto menaruh koleksi gambarnya di Taman Srigunting, maka acara aksi bagi-bagi ratusan masker tidak kalah menarik.
QBj72G7. - Gereja Blenduk adalah gereja tertua di Jawa Tengah yang menjadi bangunan bersejarah sarat dengan benda-benda berusia lebih dari 200 tahun. Gereja Protestan Indonesia Barat GPIB Immanuel Semarang tersebut berada di Jalan Letjen Suprapto Nomor 32 Semarang, tepatnya berada di kasawan Kota Lama Semarang. Pada tahun 1705, kawasan tersebut sempat menjadi pusat Pemerintahaan Kolonial Belanda di Semarang dan dikenal dengan nama Belanda Kecil atau Little itu, Semarang menjadi pelabuhan penting bagi pemerintahan kolonial. Baca juga Sejarah Gereja Blenduk, Salah Satu Ikon Kota Lama Semarang Berawal dari rumah panggung arsitektur Jawa Bangunan gereja yang dikenal dengan nama Gereja Blenduk berawal dari rumah panggung berasitektur Jawa yang didirikan tahun 1753. Hal tersebut bisa terlihat di inkripsi tulisan yang tertera di salah satu baguan gereja yang berwarna putih polos tersebut. Lalu pada tahun 1787 hingga 1794, dilakukan perubahan struktur bangunan mengikuti pola arsitektur gereja-gereja Protestan di Eropa. Baca juga Gema Kidung Natal Berbahasa Madura di Gereja Sumberpakem Jember BARRY KUSUMA Gereja Blenduk di Kota Semarang, Jawa sentuhan gaya Barok dan Renaisans yang sedang berkembang saat itu. Bangunan utama berbentuk segi delapan atau oktagonal didirikan di atas lahan seluas 400 meter persegi. Dikutip dari arsitek dari Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang Moedjiono pernah melakukan penelitian terhadap bangunan bersejarah itu. Ia mengatakan desain arsitektur oktagonal mencerminkan delapan penjuru mata angin. Terdapat tambahan transep pada empat penjuru yaitu bagian barat, selatan, utara, dan timur. Transep merupakan bangunan transisi antara bagian luar dan dalam gereja berbentuk bilik atau kamar. Baca juga Banyak Jemaat Ikut Misa Natal, Katedral Ambon Sediakan Tenda di Depan Gereja Keempat transep pada Gereja Immanuel Semarang ini diperuntukkan bagi beberapa pemanfaatan. Seperti transep barat salah satunya difungsikan sebagai konsistori atau kamar khusus pendeta sebelum memimpin kebaktian. Tepat di depan kamar pada transep barat ini terdapat mimbar khotbah terbuat dari kayu jati berbentuk oktagonal setinggi 5 meter. Pada mimbar khotbah ini juga terdapat sebuah Alkitab terbitan 1748. Sementara Transep timur difungsikan sebagai akses menuju balkon jemaat dengan tambahan anak tangga. Baca juga Misa di Gereja Katedral Semarang Terapkan Prokes Ketat, Jemaat Diberi Kartu Khusus / KRISTIANTO PURNOMO - FIKRIA HIDAYAT Gereja Blenduk, gereja tertua di Jawa Tengah yang menjadi salah satu ikon Kota Lama Semarang difoto dari udara, Minggu 29/6/2014.Transep utara digunakan sebagai balkon untuk menempatkan seperangkat orgel. Alat musik orgel dari era Renaisans ini terdiri dari ratusan tabung besi beragam ukuran berwarna perak dan merupakan organ pipa yang didesain oleh P Farwangler dan Hummer, seniman orgel asal Belanda. Ada juga sebuah tangga besi tempa berulir warna hitam dengan motif ukiran yang dibawa langsung dari pabriknya di Den Haag Belanda menjadi akses menuju ruang orgel. Baca juga Pemuda Muslim Jaga Ibadah Natal Sejumlah Gereja di Ambon Transep terakhir, yaitu bagian selatan dengan desain memanjang digunakan sebagai akses jemaat memasuki ruang kebaktian. Pada transep selatan ini juga dibangun pintu masuk utama dengan maksud untuk menghindari terpaan sinar matahari langsung dari arah timur. Moedjiono menjelaskan, jika dilihat dari udara, maka denah gereja akan membentuk pola seperti salib Yunani dengan ruang kebaktian sebagai titik sentral dari transep. Baca juga Gereja Kotabaru Yogyakarta Larang Umat Bawa Tas Ransel Saat Misa Natal Disebut terinspirasi dari Gereja St Paul di London BARRY KUSUMA Gereja Blenduk di Kota Semarang, Jawa Moedjiono berbeda dengan yang disebutkan buku Facade Semarang-Solo-Yogyakarta. Buku itu menyebutkan bahwa desain Gereja Immanuel Semarang terinspirasi pada Gereja St Paul di London karya Sir Christopher itu, di masa tahun 1894-1895 Pemerintah Kolonial Belanda menugaskan dua arsitek mereka, yakni HPA de Wilde dan W Westmaas, untuk merenovasi bangunan gereja. Kedua arsitek menambahkan struktur baru berupa menara kembar yang dilengkapi jam besar di masing-masing menara. Baca juga Ridwan Kamil Salurkan Kredit Mesra untuk Jemaat Gereja Jelang Misa Natal Pada pucuk menara dibuat rumah-rumahan untuk menempatkan lonceng besar buatan pabrik JW Steegler tahun 1703. Menara kembar ini mengapit bangunan utama. Saat itu, Gereja Immanuel dikenal dengan nama Koepel Kerk Gereja Kembar dan Hervorm de Kerk Gereja Dibangun Ulang. Wilde dan Westmaas juga menambahkan struktur teras pintu masuk utama dengan kanopi beton mengapit menara kembar. Kanopi setinggi 10 meter tadi disangga oleh empat pilar besar. Mereka juga membangun kubah terbuat dari perunggu warna kemerah-merahan pada bangunan utama yang ditopang oleh delapan bilah besi besar dan 24 besi berukuran lebih kecil. Baca juga Usung Tema Ramah Lingkungan, Ornamen Natal Gereja Kotabaru Dibuat dengan Janur Kuning Di pucuk kubah dibangun tangkup berbentuk rumah-rumahan dengan atap segi enam. Kubah tadi tampak menggembung dan posisinya memayungi ruang utama gereja. Bentuk kubah menggembung ini atau mblenduk dalam bahasa Jawa kemudian menjadi ciri khas Gereja Immanuel. Oleh masyarakat setempat rumah ibadah ini kemudian dikenal sebagai Gereja Blenduk. Sarat benda-benda bersejarah Irzal Adiakurnia Gereja Blenduk, salah satu bangunan cagar budaya yang ada di Kota Lama Semarang. Bangunan ini selain sebagai salah satu wisata sejarah, juga masih beroprasi sebagai tempat GPIB Immanuel Sutiyo mengatakan, setiap menjelang perayaan Natal 25 Desember, gereja tertua di Jawa Tengah dengan daya tampung 400 orang ini selalu dipadati jemaat yang akan melakukan kebaktian. Mereka tak hanya datang dari seputar Semarang atau Jawa Tengah, tapi dari kota-kota lain di Pulau Jawa. Tak sekadar beribadah, mereka juga mengagumi peninggalan sejarah yang masih terawat dengan baik di Gereja Blenduk ini. Baca juga Gereja Immanuel Jakarta Pusat, Tempat Ibadah sejak Zaman Belanda dengan Koleksi Berusia Ratusan Tahun Selain kehadiran orgel berusia lebih dari 200 tahun setinggi 6 meter, Gereja Blenduk juga memiliki kursi kebaktian yang tak biasa. Jika umumnya kursi pada gereja berbentuk memanjang dengan meja kayu sebagai sandaran tangan, di rumah ibadah ini tempat duduknya berupa deretan kursi tunggal kayu jati warna cokelat tua dengan sandaran punggung dan dudukan dari anyaman rotan. Susunan kursi jati ini melingkar dengan kursi berdesain rendah berada di bagian depan dan ukuran lebih tinggi di belakangnya. Baca juga Misa Natal di Gereja HKTY Ganjuran, Umat Diimbau Tidak Membawa Tas Besar DOK. Dinas Pariwisata Kota Semarang Kota Lama, Semarang DOK. Dinas Pariwisata Kota SemarangSeperti juga orgel, kursi kayu ini dibuat di Belanda pada 2 abad lalu. Di bagian tengah ruang kebaktian juga terdapat gantungan lampu besar yang diikat ke bagian puncak kubah dengan rantai besi. Dulunya, gantungan lampu antik bersusun ganda ini bisa dinaikturunkan menggunakan katrol. Sebanyak 16 lampu bohlam listrik telah menggantikan fungsi lilin untuk penerangannya. Di samping itu, lantai tegel corak hitam, kuning dan putih pada ruang kebaktian juga masih dipertahankan bentuk aslinya. Baca juga Misa di Gereja Katedral Semarang Terapkan Prokes Ketat, Jemaat Diberi Kartu Khusus Ornamen penting lain yang menambah kekaguman jemaat serta pengunjung ketika memasuki bangunan tempo dulu ini adalah ventilasi berupa jendela-jendela lengkung model Romawi kuno dengan susunan kaca patri bergaya gotik. Jendela-jendela tadi tidak bisa dibuka-tutup. Untuk menambah keapikan dari gereja dan bangunan bersejarah di sekitarnya, pada 2001 Badan Pengelola Kawasan Kota Lama BPK2L Semarang membangun Taman Srigunting, sebuah lahan hijau asri seluas 1 ha tepat di sayap timur bangunan Gereja Blenduk. Baca juga Keuskupan Agung Semarang Terapkan Aturan PPKM Level 3 Saat Ibadah Natal Pemerintah Kota Semarang telah menjadikan Gereja Blenduk sebagai obyek wisata penting di ibu kota Jawa Tengah itu. Keunikan bentuk bangunan dan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya telah mengundang turis domestik dan mancanegara untuk berkunjung terutama di akhir pekan. Tak hanya itu. Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Tengah pun sempat memberi penghargaan pada 2012 untuk kategori bangunan rumah ibadah tempo dulu yang terawat dengan baik. Ketika berkunjung ke tempat ini jangan lupa untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air, serta tetap menjaga jarak untuk mencegah penularan virus Covid-19. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID vyJC2t91BPgiQWgrGfkqyEy28-hIjKMfkVINj5b5og1wUScsnzL-ZA==
- Di kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah, yang seluas 31 hektar, terdapat banyak bangunan lawas peninggalan zaman kolonial Belanda. Salah satu ikonnya adalah Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat GPIB Immanuel atau dikenal dengan Gereja Blenduk, yang terletak di Jalan Letjen Suprapto No. dikenal dengan bentuk yang sekarang, tempat ini dulunya masih berbentuk sederhana. Adalah bangsa Portugis yang pertama kali membangunnya pada 1753. Menukil dari di masa-masa awalnya, gereja ini berbentuk rumah panggung jawa. Atapnya disesuaikan dengan arsitektur jawa. Baca juga Sejarah Malioboro, Jalan yang Dihiasi Untaian Bunga Belanda membagunnya ulang Irzal Adiakurnia Gereja Blenduk, salah satu bangunan cagar budaya yang ada di Kota Lama Semarang. Bangunan ini selain sebagai salah satu wisata sejarah, juga masih beroprasi sebagai tempat ibadah. Lewat tulisannya, Mengenal Gereja Blenduk sebagai Salah Satu Landmark Kota Semarang, Moedjiono dan Indriastjario mengatakan bahwa pada 1894-1895, bangunan tersebut diperbaiki dan dibangun ulang oleh Belanda. Pihak Belanda melakukan perubahan yang drastis dengan mendirikan dua buah menara. Bentuk atapnya pun diubah seperti kubah setengah bola. Perubahan bentuk bangunan ini tertuang dalam sebuah prasasti yang tertulis di tiang gereja. Prasasti itu menyebut, De Wilde dan W. Westmaas adalah arsitek yang menangani perubahan bentuk bangunan. Oleh karena itu, ada yang menyebut gereja ini dengan Hervorm de Kerk Gereja Bentuk Ulang, Protestanche Kerk Gereja Protestan, dan Koepel Kerk Gereja Kembar. Khusus julukan yang ditulis di akhir, sebutan itu dimaksudkan sebagai dua menara kembar yang ada di depan gereja dan mengapit bangunan utama. Baca juga Asal-Usul Kebo Bule, Hewan Milik Keraton Surakarta yang Dianggap Keramat Asal-usul sebutan Gereja Blenduk Kristianto Purnomo-Fikria Hidayat Bangunan Gereja GPIB Immanuel atau lebih populer disebut Gereja Blenduk difoto dari udara, di Semarang, Jawa Tengah, Minggu 29/6/2014. Gereja yang berada di kawasan kota tua Semarang ini dibangun tahun atap GPIB Immanuel mengalami perubahan, masyarakat banyak yang menyebutnya sebagai Gereja Blenduk. Dalam bahasa Jawa, “mblenduk” artinya “menonjol” atau “menggelembung”. Gereja Blenduk dibangun dengan gaya Neo Klasik. Jika dilihat sekilas, memang terlihat mirip dengan bangunan-bangunan gereja di Eropa pada abad 17-18 yang menggunakan kubah sebagai penutup atap. Gereja ini memiliki bentuk dasar segi delapan. Yang unik, jika dilihat dari atas, denah gereja berwujud seperti salib Yunani dengan ruang kebaktian sebagai titik sentral. Dikutip dari ditempatkannya ruang ibadah di tengah, erat kaitannya dengan simbolisasi Kristus yang disalibkan. Baca juga Tradisi Nyadran Jelang Ramadan, Saling Berbagi Sambil Merawat Silaturahmi Yang khas dari Gereja Blenduk SHUTTERSTOCK Bersantai di Taman Srigunting dengan Latar Gereja Blenduk Mengutip tak hanya bangunannya saja yang unik, beberapa benda maupun ornamen di Gereja Blenduk ini memiliki kekhasan. Salah satunya adalah adanya orgel setinggi enam meter yang berusia lebih dari 200 tahun. Tempat duduk jemaat di Gereja Blenduk juga berbeda dari lainnya. Tempat duduknya berupa kursi tunggal berbahan kayu jati dengan sandaran punggung dan dudukan dari anyaman rotan. Baca juga Menilik Desa Trunyan, Harumnya Pohon Taru Menyan di Antara Jenazah yang Tak Dikuburkan Nuansa lawas juga bisa ditemui pada ventilasi berupa jendela-jendela lengkung model Romawi kuno. Jendela berbahan kaca patri itu mempunyai gaya gotik. Jendela-jendela tersebut tidak bisa dibuka-tutup. Kini, GPIB Immanuel atau yang disebut juga dengan Gereja Blenduk telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
- Gereja Blenduk adalah gereja tertua di Jawa Tengah yang menjadi bangunan bersejarah sarat dengan benda-benda berusia lebih dari 200 tahun. Gereja Protestan Indonesia Barat GPIB Immanuel Semarang tersebut berada di Jalan Letjen Suprapto Nomor 32 Semarang, tepatnya berada di kasawan Kota Lama Semarang. Pada tahun 1705, kawasan tersebut sempat menjadi pusat Pemerintahaan Kolonial Belanda di Semarang dan dikenal dengan nama Belanda Kecil atau Little Netherland. Kala itu, Semarang menjadi pelabuhan penting bagi pemerintahan kolonial. Baca juga Sejarah Gereja Blenduk, Salah Satu Ikon Kota Lama Semarang Berawal dari rumah panggung arsitektur Jawa Bangunan gereja yang dikenal dengan nama Gereja Blenduk berawal dari rumah panggung berasitektur Jawa yang didirikan tahun 1753. Hal tersebut bisa terlihat di inkripsi tulisan yang tertera di salah satu baguan gereja yang berwarna putih polos tersebut. Lalu pada tahun 1787 hingga 1794, dilakukan perubahan struktur bangunan mengikuti pola arsitektur gereja-gereja Protestan di Eropa. Baca juga Gema Kidung Natal Berbahasa Madura di Gereja Sumberpakem Jember BARRY KUSUMA Gereja Blenduk di Kota Semarang, Jawa sentuhan gaya Barok dan Renaisans yang sedang berkembang saat itu. Bangunan utama berbentuk segi delapan atau oktagonal didirikan di atas lahan seluas 400 meter persegi. Dikutip dari arsitek dari Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang Moedjiono pernah melakukan penelitian terhadap bangunan bersejarah itu. Ia mengatakan desain arsitektur oktagonal mencerminkan delapan penjuru mata angin. Terdapat tambahan transep pada empat penjuru yaitu bagian barat, selatan, utara, dan timur. Transep merupakan bangunan transisi antara bagian luar dan dalam gereja berbentuk bilik atau kamar. Baca juga Banyak Jemaat Ikut Misa Natal, Katedral Ambon Sediakan Tenda di Depan Gereja Keempat transep pada Gereja Immanuel Semarang ini diperuntukkan bagi beberapa pemanfaatan. Seperti transep barat salah satunya difungsikan sebagai konsistori atau kamar khusus pendeta sebelum memimpin kebaktian. Tepat di depan kamar pada transep barat ini terdapat mimbar khotbah terbuat dari kayu jati berbentuk oktagonal setinggi 5 meter. Pada mimbar khotbah ini juga terdapat sebuah Alkitab terbitan 1748. Sementara Transep timur difungsikan sebagai akses menuju balkon jemaat dengan tambahan anak tangga. Baca juga Misa di Gereja Katedral Semarang Terapkan Prokes Ketat, Jemaat Diberi Kartu Khusus / KRISTIANTO PURNOMO - FIKRIA HIDAYAT Gereja Blenduk, gereja tertua di Jawa Tengah yang menjadi salah satu ikon Kota Lama Semarang difoto dari udara, Minggu 29/6/2014.Transep utara digunakan sebagai balkon untuk menempatkan seperangkat orgel. Alat musik orgel dari era Renaisans ini terdiri dari ratusan tabung besi beragam ukuran berwarna perak dan merupakan organ pipa yang didesain oleh P Farwangler dan Hummer, seniman orgel asal Belanda. Ada juga sebuah tangga besi tempa berulir warna hitam dengan motif ukiran yang dibawa langsung dari pabriknya di Den Haag Belanda menjadi akses menuju ruang orgel. Baca juga Pemuda Muslim Jaga Ibadah Natal Sejumlah Gereja di Ambon Transep terakhir, yaitu bagian selatan dengan desain memanjang digunakan sebagai akses jemaat memasuki ruang kebaktian. Pada transep selatan ini juga dibangun pintu masuk utama dengan maksud untuk menghindari terpaan sinar matahari langsung dari arah timur. Moedjiono menjelaskan, jika dilihat dari udara, maka denah gereja akan membentuk pola seperti salib Yunani dengan ruang kebaktian sebagai titik sentral dari transep. Baca juga Gereja Kotabaru Yogyakarta Larang Umat Bawa Tas Ransel Saat Misa Natal Disebut terinspirasi dari Gereja St Paul di London BARRY KUSUMA Gereja Blenduk di Kota Semarang, Jawa Moedjiono berbeda dengan yang disebutkan buku Facade Semarang-Solo-Yogyakarta. Buku itu menyebutkan bahwa desain Gereja Immanuel Semarang terinspirasi pada Gereja St Paul di London karya Sir Christopher Wren. Kala itu, di masa tahun 1894-1895 Pemerintah Kolonial Belanda menugaskan dua arsitek mereka, yakni HPA de Wilde dan W Westmaas, untuk merenovasi bangunan gereja. Kedua arsitek menambahkan struktur baru berupa menara kembar yang dilengkapi jam besar di masing-masing menara. Baca juga Ridwan Kamil Salurkan Kredit Mesra untuk Jemaat Gereja Jelang Misa Natal Pada pucuk menara dibuat rumah-rumahan untuk menempatkan lonceng besar buatan pabrik JW Steegler tahun 1703. Menara kembar ini mengapit bangunan utama. Saat itu, Gereja Immanuel dikenal dengan nama Koepel Kerk Gereja Kembar dan Hervorm de Kerk Gereja Dibangun Ulang. Wilde dan Westmaas juga menambahkan struktur teras pintu masuk utama dengan kanopi beton mengapit menara kembar. Kanopi setinggi 10 meter tadi disangga oleh empat pilar besar. Mereka juga membangun kubah terbuat dari perunggu warna kemerah-merahan pada bangunan utama yang ditopang oleh delapan bilah besi besar dan 24 besi berukuran lebih kecil. Baca juga Usung Tema Ramah Lingkungan, Ornamen Natal Gereja Kotabaru Dibuat dengan Janur Kuning Di pucuk kubah dibangun tangkup berbentuk rumah-rumahan dengan atap segi enam. Kubah tadi tampak menggembung dan posisinya memayungi ruang utama gereja. Bentuk kubah menggembung ini atau mblenduk dalam bahasa Jawa kemudian menjadi ciri khas Gereja Immanuel. Oleh masyarakat setempat rumah ibadah ini kemudian dikenal sebagai Gereja Blenduk. Sarat benda-benda bersejarah Irzal Adiakurnia Gereja Blenduk, salah satu bangunan cagar budaya yang ada di Kota Lama Semarang. Bangunan ini selain sebagai salah satu wisata sejarah, juga masih beroprasi sebagai tempat GPIB Immanuel Sutiyo mengatakan, setiap menjelang perayaan Natal 25 Desember, gereja tertua di Jawa Tengah dengan daya tampung 400 orang ini selalu dipadati jemaat yang akan melakukan kebaktian. Mereka tak hanya datang dari seputar Semarang atau Jawa Tengah, tapi dari kota-kota lain di Pulau Jawa. Tak sekadar beribadah, mereka juga mengagumi peninggalan sejarah yang masih terawat dengan baik di Gereja Blenduk ini. Baca juga Gereja Immanuel Jakarta Pusat, Tempat Ibadah sejak Zaman Belanda dengan Koleksi Berusia Ratusan Tahun Selain kehadiran orgel berusia lebih dari 200 tahun setinggi 6 meter, Gereja Blenduk juga memiliki kursi kebaktian yang tak biasa. Jika umumnya kursi pada gereja berbentuk memanjang dengan meja kayu sebagai sandaran tangan, di rumah ibadah ini tempat duduknya berupa deretan kursi tunggal kayu jati warna cokelat tua dengan sandaran punggung dan dudukan dari anyaman rotan. Susunan kursi jati ini melingkar dengan kursi berdesain rendah berada di bagian depan dan ukuran lebih tinggi di belakangnya. Baca juga Misa Natal di Gereja HKTY Ganjuran, Umat Diimbau Tidak Membawa Tas Besar DOK. Dinas Pariwisata Kota Semarang Kota Lama, Semarang DOK. Dinas Pariwisata Kota SemarangSeperti juga orgel, kursi kayu ini dibuat di Belanda pada 2 abad lalu. Di bagian tengah ruang kebaktian juga terdapat gantungan lampu besar yang diikat ke bagian puncak kubah dengan rantai besi. Dulunya, gantungan lampu antik bersusun ganda ini bisa dinaikturunkan menggunakan katrol. Sebanyak 16 lampu bohlam listrik telah menggantikan fungsi lilin untuk penerangannya. Di samping itu, lantai tegel corak hitam, kuning dan putih pada ruang kebaktian juga masih dipertahankan bentuk aslinya. Baca juga Misa di Gereja Katedral Semarang Terapkan Prokes Ketat, Jemaat Diberi Kartu Khusus Ornamen penting lain yang menambah kekaguman jemaat serta pengunjung ketika memasuki bangunan tempo dulu ini adalah ventilasi berupa jendela-jendela lengkung model Romawi kuno dengan susunan kaca patri bergaya gotik. Jendela-jendela tadi tidak bisa dibuka-tutup. Untuk menambah keapikan dari gereja dan bangunan bersejarah di sekitarnya, pada 2001 Badan Pengelola Kawasan Kota Lama BPK2L Semarang membangun Taman Srigunting, sebuah lahan hijau asri seluas 1 ha tepat di sayap timur bangunan Gereja Blenduk. Baca juga Keuskupan Agung Semarang Terapkan Aturan PPKM Level 3 Saat Ibadah Natal Pemerintah Kota Semarang telah menjadikan Gereja Blenduk sebagai obyek wisata penting di ibu kota Jawa Tengah itu. Keunikan bentuk bangunan dan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya telah mengundang turis domestik dan mancanegara untuk berkunjung terutama di akhir pekan. Tak hanya itu. Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Tengah pun sempat memberi penghargaan pada 2012 untuk kategori bangunan rumah ibadah tempo dulu yang terawat dengan baik. Ketika berkunjung ke tempat ini jangan lupa untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air, serta tetap menjaga jarak untuk mencegah penularan virus Covid-19.
jadwal ibadah gereja blenduk semarang